Simulasi - Gempa hebat mengguncang Provinsi Aceh pada Senin (19/2), sekira pukul 10.00 WIB. Warga yang sedang melakukan aktivitas, spontan menghentikan rutinitasnya. Bahkan para guru serta siswa SMP dan SMA sekolah Inshafuddin, Banda Aceh, juga terlihat berhamburan keluar dari ruangan kelas untuk menyelamatkan diri dari gedung sekolah berlantai tiga yang ada di wilayah Lambaro Skep, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh.
Berdasarkan amatan AKURAT.CO di lokasi, sebagian siswa dan guru terlihat sudah mulai dievakuasi ke tengah-tengah lapangan sekolah. Sementara itu, para siswa dan guru lainnya sedang berusaha menyelamatkan beberapa siswa yang dikatakan masih terjebak direruntuhan bangunan sekolah. Informasi didapatkan, gempa tersebut mengakibatkan tiga orang siswa mengalami luka-luka akibat tertimpa material bangunan sekolah yang rusak.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan informasi, bahwa gempa yang baru saja terjadi berkekuatan 8,2 Skala Richter (SR), dengan pusat gempa berada di Aceh Besar dan dirasakan hingga di seluruh Kota Banda Aceh. Selain itu, diprediksikan akan terjadi tsunami.
Beberapa saat kemudian, suara sirine dari Kantor Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) berbunyi, pertanda bahwa sebentar lagi tsunami akan melanda daratan. Suara kepanikan dibalik suara-suara istighfar dan takbir terdengar dari siswa dan guru, menjadikan suasana semakin susah terkendali. Para siswa yang sedari tadi telah di tengah lapangan dan sibuk memberikan pertolongan terlihat mulai panik serta harus kembali dievakuasi ke tempat yang lebih tinggi.
Para guru mencoba menenangkan para siswa sambil mengarahkan mereka untuk naik ke tempat yang lebih tinggi. Sambil mengevakuasi diri, para siswa dengan tertib mengikuti instruksi guru mereka menuju tempat evakuasi, yakni ke lantai 3 gedung sekolah yang masih bagus dengan dibantu RAPI dan beberapa petugas BPBD Aceh Besar, yang pasca gempa tadi telah tiba di lokasi.
Sesampai di gedung tersebut, para siswa diminta untuk tetap tenang dan berdoa. Sedangkan beberapa siswa yang mampu memberikan pertolongan pertama, langsung diminta membantu PMI dan memberikan pertolongan lanjutan kepada para korban yang terluka.
Demikianlah simulasi evakuasi mandiri kesiapsiagaan bencana yang digelar United Nations Development Programme (UNDP) bekerja sama dengan Pemerintah Jepang, Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), dan pihak sekolah tersebut.
Teknikal Oficer UNPD Indonesia, Charistian, mengatakan, kegiatan ini merupakan bagian dari membangun kesiapsiagaan tsunami di delapan belas negara di Asia Pasifik.
“Simulasi hari ini merupakan kerja sama antara UNDP dengan Pemerintahan Jepang untuk membangun kesiapsiagaan tsunami di delapan belas negara di Asia Pasifik. Kebetulan Indonesia berpartisipasi dan kebetulan target kita adalah di Provinsi Aceh,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, ini adalah kegiatan ketiga yang mereka lakukan di tahun ini. Sebelumnya, pihak UNDP juga pernah melakukan simulasi yang serupa di tahun 2017
“Jadi ini adalah putaran kedua untuk kegiatan ini. Jadi memang tujuan utamanya adalah untuk membangun kesiapsiagaan pihak sekolah dalam artian bahwa sekolah memiliki peranan dalam menyebarkan pendidikan dalam kesiapsiagaan maupun potensi terhadap resiko bencana alam,” jelasnya.
“Jadi dengan harapan, pengetahuan ataupun pesan-pesan yang dimiliki dan didapat murid-murid di sini bisa disebar luaskan kepada komunitas meraka juga. Jadi tidak hanya di sekolah, namun juga mereka membangun kesiapsiagaan becana di lingkungan tempat tinggal sekitarnya,” jelasnya lagi.
Hasil pantauan, ada sekitar lebih kurang 500-an orang siswa yang dilibatkan pada simulasi tersebut.
Sumber : news.akurat.co

EmoticonEmoticon