Loading...
Add Comment


Pengelolaan risiko bencana berbasis komunitas merupakan upaya yang sistematis untuk mengurangi risiko bencana agar masyarakat memiliki ketahanan/ketangguhan terhadap risiko bencana. Upaya sistematis tersebut dilakukan dari tahap penilaian risiko, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi dengan pendekatan dari dan oleh komunitas (partisipatif).

Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) merupakan dokumen perencanaan komunitas selama lima tahun untuk mengelola risiko bencana secara terpadu dengan melakukan pencegahan, pengurangan risiko (mitigasi), kesiapsiagaan, tanggap darurat, rehabilitasi, dan rekonstruksi.

Perencanaan penanggulaan bencana yang menghasilkan Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) sebagai panduan dalam melaksanakan upaya penanggulangan bencana. Dokumen tersebut berisi profil wilayah dan profil risiko desa (di Kota Banda Aceh disebut gampong), tantangan dan peluang, kebijakan dan strategi, program dan prioritas kegiatan, alokasi sumber dana.

Didalamnya juga tercantum alokasi tugas dan mekanisme penanggulangan bencana dari berbagai pihak. Lebih dari itu, RPB merupakan bentuk komitmen multi pihak dalam menanggulangi bencana secara terpadu. 

FREE DOWNLOAD



>

Tesis : Efektivitas Pelaksana Kebijakan Penanggulangan Bencana

Add Comment

Efektivitas Pelaksana Kebijakan Penanggulangan Bencana Di Provinsi Sumatera Barat

Penelitian ini ditujukan untuk menganalisis Efektivitas kebijakan penanggulangan bencana Provinsi Sumatera Barat yang dilanjutkan dengan menganalisis tingkat ketahanan daerah Provinsi Sumatera Barat berdasarkan 22 indikator Hyogo Framework for Action (HFA). Indikator HFA ini merupakan hasil kesepakatan dunia melalui konferensi yang diprakarsai oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Kobe, Jepang.


Tesis ini di tulis oleh MARDAYELI DANHAS

Tesis : Efektivitas Pelaksana Kebijakan Penanggulangan Bencana


>

Building the Resiliance of Nation and Communities to Disaster ; Hyogo Framework for Action 2005-2015 - Free Download

Add Comment
Hyogo Framework for Action


Building the Resiliance of Nation and Communities to Disaster ; Hyogo Framework for Action 2005-2015

The World Conference on Disaster Reduction was held from 18 to 22 January 2005 in Kobe, Hyogo, Japan, and adopted the present Framework for Action 2005-2015: Building the Resilience of Nations and Communities to Disasters (here after referred to as the “Framework for Action”). The Conference provided a unique opportunity to promote a strategic and systematic approach to reducing vulnerabilities and risks to hazards. It underscored the need for, and identified ways of, building the resilience of nations and communities to disasters


Hyogo Framework for Action 2005-2015


>

Petunjuk Teknis Kegiatan Penguatan PRB Daerah - Free Download

Add Comment
Petunjuk Teknis Kegiatan Penguatan PRB Daerah


Petunjuk Teknis Kegiatan Penguatan PRB Daerah - Implementasi Rapor Ketangguhan Kab/Kota terhadap Bencana

Untuk membantu kota melaksanakan pembangunan yang aman dan berkelanjutan, Badan PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana, UNISDR (United Nations International Strategy for Disaster Reduction) mengeluarkan suatu perangkat untuk mengukur tingkat ketangguhan kota dalam menghadapi bencana.

Alat yang disebut Local  Government Self-Assessment Tools (LG-SAT) for Disaster Resilience atau Alat Penilaian Mandiri Ketangguhan Bencana Pemerintah Daerah dikembangkan berdasarkan konsep “Sepuluh Langkah Mendasar” dalam membangun Kota Tangguh yang diturunkan dari Kerangka PRB Global. Direktorat Pengurangan Risiko Bencana BNPB dan beberapa organisasi non-pemerintah yang bergerak di bidang PRB telah mencoba melaksanakan penilaian LG-SAT tahun 2012-2014 di 55 kabupaten/kota di 33 provinsi.


Petunjuk Teknis Kegiatan Penguatan PRB Daerah


>

Gempa Bumi dan Penanganan

Add Comment
Gempa Bumi dan Penanganan


Apa itu sebenarnya gempa bumi?

Gempa bumi adalah suatu peristiwa yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Gempa bumi adalah peristiwa bergetarnya bumi akibat pelepasan energi di dalam bumi secara tiba-tiba yang ditandai dengan patahnya lapisan batuan pada kerak bumi.

Akumulasi energi penyebab terjadinya gempa bumi dihasilkan dari pergerakan lempeng-lempeng tektonik. Energi yang dihasilkan tersebut kemudian dipancarkan kesegala arah berupa gelombang gempa bumi sehingga efeknya dapat dirasakan sampai ke permukaan bumi.

Suatu peristiwa dapat dikategorikan sebagai gempa bumi ketika peristiwa tersebut memenuhi beberapa karakteristik gempa bumi seperti berlangsung dalam waktu yang sangat singkat, dampak yang ditimbulkan dapat menimbulkan bencana dalam skala yang besar sehingga menyebabkan kerugian di suatu lokasi kejadian. Lalu, peristiwa tersebut berpotensi untuk terulang lagi di sekitar daerah lokasi dan hingga kini masih belum dapat diprediksi.

Gempa bumi tidak dapat dicegah, tetapi akibat yang ditimbulkan dapat dikurangi. Terdapat 4 Parameter Gempabumi yaitu waktu terjadinya gempabumi (Origin Time - OT), lokasi pusat gempabumi (Episenter), kedalaman pusat gempabumi (Depth), dan Kekuatan Gempabumi (Magnitudo).

Permukaan bumi terbagi menjadi beberapa lempeng tektonik yang berupa segmen keras dan mengapung diatas astenosfer.  Teori lempeng tektonik merupakan kombinasi dari teori sebelumnya yaitu: Teori Pergerakan Benua (Continental Drift) dan Pemekaran Dasar Samudra (Sea Floor Spreading).

Lapisan paling atas bumi, yaitu litosfir, merupakan batuan yang relatif dingin dan bagian paling atas berada pada kondisi padat dan kaku.. Lempeng tektonik yang merupakan bagian dari litosfir padat dan terapung di atas mantel ikut bergerak satu sama lainnya. Ada tiga kemungkinan pergerakan satu lempeng tektonik relatif terhadap lempeng lainnya, yaitu apabila kedua lempeng saling menjauhi (spreading), saling mendekati(collision) dan saling geser (transform).

Jika dua lempeng bertemu pada suatu sesar, keduanya dapat bergerak saling menjauhi, saling mendekati atau saling bergeser. Umumnya, gerakan ini berlangsung lambat dan tidak dapat dirasakan oleh manusia, tetapi terukur sebesar 0-15cm pertahun. Kadang-kadang, gerakan lempeng ini macet dan saling mengunci, sehingga terjadi pengumpulan energi yang berlangsung terus sampai pada suatu saat batuan pada lempeng tektonik tersebut tidak lagi kuat menahan gerakan tersebut sehingga terjadi pelepasan mendadak yang kita kenal sebagai gempa bumi.


Gempa Bumi dan Penanganan


Penyebab Terjadinya Gempa Bumi
  1. Proses tektonik akibat pergerakan kulit/lempeng bumi
  2. Aktivitas sesar di permukaan bumi
  3. Pergerakan geomorfologi secara lokal, contohnya terjadi runtuhan tanah
  4. Aktivitas gunung api
  5. Ledakan Nuklir

Penanganan Jika Terjadi Gempa Bumi

Jika gempa bumi menguncang secara tiba-tiba, berikut ini 10 petunjuk yang dapat dijadikan pegangan di manapun anda berada.

1. Di dalam rumah
Getaran akan terasa beberapa saat. Selama jangka waktu itu, anda harus mengupayakan keselamatan diri anda dan keluarga anda. Masuklah ke bawah meja untuk melindungi tubuh anda dari jatuhan benda-benda. Jika anda tidak memiliki meja, lindungi kepala anda dengan bantal. Jika anda sedang menyalakan kompor, maka matikan segera untuk mencegah terjadinya kebakaran.

2. Di sekolah
Berlindunglah di bawah kolong meja, lindungi kepala dengan tas atau buku, jangan panik, jika gempa mereda keluarlah berurutan mulai dari jarak yang terjauh ke pintu, carilah tempat lapang, jangan berdiri dekat gedung, tiang dan pohon.

3. Di luar rumah
Lindungi kepada anda dan hindari benda-benda berbahaya. Di daerah perkantoran atau kawasan industri, bahaya bisa muncul dari jatuhnya kaca-kaca dan papan-papan reklame. Lindungi kepala anda dengan menggunakan tangan, tas atau apapun yang anda bawa.

4. Di gedung, mall, bioskop, dan lantai dasar mall
Jangan menyebabkan kepanikan atau korban dari kepanikan. Ikuti semua petunjuk dari petugas atau satpam.

5. Di dalam lift
Jangan menggunakan lift saat terjadi gempa bumi atau kebakaran. Jika anda merasakan getaran gempa bumi saat berada di dalam lift, maka tekanlah semua tombol. Ketika lift berhenti, keluarlah, lihat keamanannya dan mengungsilah. Jika anda terjebak dalam lift, hubungi manajer gedung dengan menggunakan interphone jika tersedia.

6. Di kereta api
Berpeganganlah dengan erat pada tiang sehingga anda tidak akan terjatuh seandainya kereta dihentikan secara mendadak. Bersikap tenanglah mengikuti penjelasan dari petugas kereta. Salah mengerti terhadap informasi petugas kereta atau stasiun akan mengakibatkan kepanikan. []