Loading...

Pedoman Kesiapsiagaan Sekolah dalam Menghadapi Gempa Bumi dan Tsunami

Add Comment
Pedoman Kesiapsiagaan Sekolah

Pedoman Kesiapsiagaan Sekolah

Pedoman Kesiapsiagaan Sekolah dalam Menghadapi Gempa dan Tsunami SMA Negeri 1 Peukan Bada disusun dengan meilbatkan beberapa unsur dari UNDP, Badan Penanggulangan Benana  Aceh (BPBA), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Besar dan Forum Pengurangan Risiko Bencana Aceh.

Pedoman Kesiapsiagaan Sekolah dalam Menghadapi Gempa dan Tsunami SMA Negeri 1 Peukan Bada merupakan rangkungan dari dokumen sekolah yang berhubungan dengan kesiapsiagaan dalam menghadapi risiko gempa bumi dan tsunami.


Harapan dari penyusunan pedoman ini adalah sebagai dasar pelaksanaan upaya-upaya pengurangan risiko bencana di sekolah dalam rangka mewujudkan ketangguhan dalam menghadapi bencana Kami berharap dengan dukungan dan saran dan kritikan yang bersifat membangun terhadap segala proses dan isi didalam pedoman ini dapat terakomodir, sehingga dapat memberi manfaat langsung maupun tidak.


Pedoman Kesiapsiagaan Sekolah dalam Menghadapi Gempa Bumi dan Tsunami


>

Workshop dan Survey Kesiapsiagaan Sekolah Aman Bencana Kota Sabang

Add Comment
Survey Kesiapsiagaan Sekolah Aman Bencana Sabang
Foto bersama setelah dilakukan Survey Kesiapsiagaan Sekolah Aman Bencana kota Sabang
Sabang - Forum Pengurangan Risiko (Forum PRB) Banda Aceh akan mengadakan kegiatan Workshop dan Survey Kesiapsiagaan Sekolah Aman Bencana di Kota Sabang. Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari (7 s/d 9 Maret).

Menurut Fahmi Ibrahim Manager Program Forum PRB Banda Aceh, bahwa kegiatan ini bertujuan untuk berbagi pengetahuan dan pembelajaran sesama team survey kesiapsiagaan sekolah yang telah dilakukan di Banda Aceh pada februari lalu. Dalam pelaksanaan workshop ini juga diadakan Survey Kesiapsiagaan Sekolah aman bencana untuk sekolah-sekolah di kota Sabang.

Peserta workshop yang melibatkan 35 Orang, yang terdiri dari perwakilan UNDP, Forum PRB Aceh, BPBA, BPBD Banda Aceh, Dinas Pendidikan Aceh, Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Dinas Pendidikan Banda Aceh, Kemenag Kota Banda Aceh, TDMRC, PMI Aceh, PMI Banda Aceh, RAPI Aceh, Khadam Indonesia, dan HIBEUNA.

Pada kegiatan Survey Kesiapsiagaan Sekolah Aman Bencana Ina Nisrina Advisor Forum PRB Banda Aceh, kegiatan ini dipraktikkan pada SMA 1 Sabang dan MTsN Sabang yang bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Sabang, Kemenag Sabang dan Pemerintahan kota Sabang. Dengan kepesertaan SMA 1 Sabang melibatkan Murid 100 siswa dan 13 guru sedangkan MTsN Sabang dengan mengunakan Aplikasi berbasis Android V 5 .0. Aplikasi ini adalah hasil kerjasama LIPI, UNESCO, UNDP.

Survey Kesiapsiagaan Sekolah Aman Bencana telah dilakukan hari ini, pengajar dan siswa sangat antusias dalam melakukan kegiatan ini. Hasil survey pun langsung bisa di akses oleh siswa dan pengajar sehingga mereka tahu kapasitas dan kebijakan apa yang masih kurang dalam pengurangan risiko bencana di sekolah mereka ujar Ina.

Aplikasi STEP - A sangat mudah di pergunakan, dan sangat membantu kami dalam menguji pengetahuan yang berkenaan dengan bencana alam seperti gempa bumi dan tanah longsor serta bencana-bencana lainnya ujar Wira Ketua OSIS SMA 1 kota Sabang.[]

Aceh Diguncang Gempa 8,2 SR, Siswa dan Guru Berhamburan Menyelamatkan Diri

Add Comment

Simulasi - Gempa hebat mengguncang Provinsi Aceh pada Senin (19/2), sekira pukul 10.00 WIB. Warga yang sedang melakukan aktivitas, spontan menghentikan rutinitasnya. Bahkan para guru serta siswa SMP dan SMA sekolah Inshafuddin, Banda Aceh, juga terlihat berhamburan keluar dari ruangan kelas untuk menyelamatkan diri dari gedung sekolah berlantai tiga yang ada di wilayah Lambaro Skep, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh.

Berdasarkan amatan AKURAT.CO di lokasi, sebagian siswa dan guru terlihat sudah mulai dievakuasi ke tengah-tengah lapangan sekolah. Sementara itu, para siswa dan guru lainnya sedang berusaha menyelamatkan beberapa siswa yang dikatakan masih terjebak direruntuhan bangunan sekolah. Informasi didapatkan, gempa tersebut mengakibatkan tiga orang siswa mengalami luka-luka akibat tertimpa material bangunan sekolah yang rusak.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan informasi, bahwa gempa yang baru saja terjadi berkekuatan 8,2 Skala Richter (SR), dengan pusat gempa berada di Aceh Besar dan dirasakan hingga di seluruh Kota Banda Aceh. Selain itu, diprediksikan akan terjadi tsunami.

Beberapa saat kemudian, suara sirine dari Kantor Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) berbunyi, pertanda bahwa sebentar lagi tsunami akan melanda daratan. Suara kepanikan dibalik suara-suara istighfar dan takbir terdengar dari siswa dan guru, menjadikan suasana semakin susah terkendali. Para siswa yang sedari tadi telah di tengah lapangan dan sibuk memberikan pertolongan terlihat mulai panik serta harus kembali dievakuasi ke tempat yang lebih tinggi.

Para guru mencoba menenangkan para siswa sambil mengarahkan mereka untuk naik ke tempat yang lebih tinggi. Sambil mengevakuasi diri, para siswa dengan tertib mengikuti instruksi guru mereka menuju tempat evakuasi, yakni ke lantai 3 gedung sekolah yang masih bagus dengan dibantu RAPI dan beberapa petugas BPBD Aceh Besar, yang pasca gempa tadi telah tiba di lokasi.

Sesampai di gedung tersebut, para siswa diminta untuk tetap tenang dan berdoa. Sedangkan beberapa siswa yang mampu memberikan pertolongan pertama, langsung diminta membantu PMI dan memberikan pertolongan lanjutan kepada para korban yang terluka.

Demikianlah simulasi evakuasi mandiri kesiapsiagaan bencana yang digelar United Nations Development Programme (UNDP) bekerja sama dengan Pemerintah Jepang, Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), dan pihak sekolah tersebut.

Teknikal Oficer UNPD Indonesia, Charistian, mengatakan, kegiatan ini merupakan bagian dari membangun kesiapsiagaan tsunami di delapan belas negara di Asia Pasifik.

“Simulasi hari ini merupakan kerja sama antara UNDP dengan Pemerintahan Jepang untuk membangun kesiapsiagaan tsunami di delapan belas negara di Asia Pasifik. Kebetulan Indonesia berpartisipasi dan kebetulan target kita adalah di Provinsi Aceh,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, ini adalah kegiatan ketiga yang mereka lakukan di tahun ini. Sebelumnya, pihak UNDP juga pernah melakukan simulasi yang serupa di tahun 2017

“Jadi ini adalah putaran kedua untuk kegiatan ini. Jadi memang tujuan utamanya adalah untuk membangun kesiapsiagaan pihak sekolah dalam artian bahwa sekolah memiliki peranan dalam menyebarkan pendidikan dalam kesiapsiagaan maupun potensi terhadap resiko bencana alam,” jelasnya.

“Jadi dengan harapan, pengetahuan ataupun pesan-pesan yang dimiliki dan didapat murid-murid di sini bisa disebar luaskan kepada komunitas meraka juga. Jadi tidak hanya di sekolah, namun juga mereka membangun kesiapsiagaan becana di lingkungan tempat tinggal sekitarnya,” jelasnya lagi.

Hasil pantauan, ada sekitar lebih kurang 500-an orang siswa yang dilibatkan pada simulasi tersebut.
Sumber : news.akurat.co